Selasa, 2009 Mei 12
Tiga Dupa, Kusulut dalam Nadiku
Tiga dupa
Kusulut dalam nadiku
Tempat bagi ziarah laut
Laut aksara
Kadang dengung lebah
Gaungkan mantra serupa doa
Kadang senyap merekah
Menuai sunyi yang sempurna
Sesempurna sunyi laut saat menyimpan luka
Tiga dupa
Kusulut dalam nadiku
Kususun berjenjang
Sebagai alamat keresahan yang tebal
Pertanyaan demi pertanyaan
Kadang nyala apinya seperti rinduku
Yang bergetar menaiki udara
Kadang padam seperti gigil hujan
Tersesat di rumahrumah yang setia menyimpan
Masa lalu
Pijar ya pijarlah dupaku
Kutitip sepotong harapan di pucuk cahaya
Biar ukir nafas dalam nadiku
Memandu cerita sang pejalan
Sebab harapan adalah kenyataan yang sedang dalam perjalanan*
De Sava Koffie, 1 Mei 09, 20:07
*sajak Ags Arya Dipayana
Jumat, 2009 April 10
Satu Ketika di Pantai Glagah
Pegang erat tanganku, Bunda
Aku tahu kakimu berat melangkahi lautan pasir
Kupastikan untukmu ringan saja
Jika kita berbareng melangkah
Pada pijakan yang enyah ragu
Pegang lebih erat lagi tanganku, Bunda
Kau tahu, aku perempuan kuat
Siap memapahmu
Kita telah tiba di pantai ini
Tak mungkin sesegera kita pergi
Di bentangan aku mau kau tunjuki cakrawala
Membatas air dan kain biru, seperti garis hidup kita yang terbatas
Menepikan senja, kala matahari lari sembunyi
Persis lanskap senja usia
Oleh sebab sakit yang mencipta sebuah dunia asing di tubuh ringkihmu
Dan menjadikan harihari di rumah kita kian asing....
Mari dudukduduk sini, Bunda
Kita buka saja pagi ini dengan segelas kopi
Yang sebentar lagi pasti dingin oleh sebab kencang angin
Rapatkan jaketmu lekas, Bunda
Panggil lagi kehangatan
Sebab aku terlampau takjub
Hangat kenangan rahim yang pernah kusinggahi
Dulu sekali
2008
Jumat, 2009 Februari 20
Loge; Potret Resistensi Perempuan Sumba
Judul : Loge
Penulis : Mezra E. Pellondou
Penerbit : Frame Publishing, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, April 2008, 80 halaman
Sastra, dalam hal ini novel, kerap dipakai sebagai pemajang realitas yang tersamar, tak terkecuali realitas perempuan. Di sisi lain, kerap dijadikan sebagai realitas yang dibayangkan dalam bentuk narasi fiksi. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa melalui sastra, sebuah potret resistensi perempuan seakan menemukan wadahnya meski sederhana. Seperti realitas yang mengisi lembar hidup perempuan berkalung adat. Menyorongkan realitas sosial dalam simbol bahasa sastra yang enak dibaca.
Pada tahun-tahun silam, kita mengenal karya sastra yang populer mengangkat sosok perempuan berlatar belakang belenggu adat. Perjodohan dan kawin paksa adalah serangkaian tema yang menggenang di ingatan masyarakat. Siti Nurbaya terbitan Balai Pustaka salah satu contohnya. Mengisahkan bagaimana perempuan dalam genggaman patriarki masyarakat adat, tetap harus tunduk dengan kehendak di luar dirinya. Tak peduli meski pendidikan si perempuan terbilang modern yang sejatinya bisa dijadikan alat perlawanan.
Kisah yang hampir senada ada dalam Loge. Tetapi Loge lebih berliku dari Siti Nurbaya oleh sebab peristiwa incest dan hubungan terlarang lain yang terjadi. Buku yang sangat tipis untuk ukuran sebuah novel ini mengangkat sosok perempuan bangsawan Sumba bernama Rambu Humba. Sebuah narasi besar melilit kehidupannya. Tidak saja persoalan perjodohan secara adat yang telah membuatnya tidak merdeka, tetapi bencana besar tengah mengintainya pada akhir cerita.
Rambu Humba menjalani cinta terlarang. Bukan saja karena laki-laki yang secara sadar dicintai dan dipilihnya menjadi suami adalah Loge, seorang hamba sahaya milik keluarganya yang jelas-jelas melanggar norma keluarganya dan terlarang, tetapi lebih dari itu, ternyata Loge adalah kakak kandungnya dari ibu yang berbeda.
Ibu Loge adalah budak keluarga bangsawan itu, yang dengan paksa telah dilubangi hidupnya oleh ayah Rambu, bangsawan Umbu Bira, hingga melahirkan Loge tanpa seorang pun tahu. Meski hidupnya hancur, budak perempuan itu tak memiliki pilihan selain tetap tinggal dan mengabdi di rumah besar bangsawan itu. Sambil terus menjaga rahasia yang meremukkannya, bertahun-tahun pula ia menjadi budak yang terus disembelih keperempuanannya. Rahasia besar itu menuai petaka karena Rambu Humba dan Loge yang telah lama menjalin cinta secara sembunyi-sembunyi, melakukan kawin lari tanpa mengetahui bahwa mereka sesungguhnya saudara kandung.
Adat masih sangat kokoh mencengkeram Rambu Humba, meski perempuan bangsawan yang mencintai tanah dan patuh serta hormat pada adat itu sesungguhnya mengenyam pendidikan tinggi dan modern di sebuah universitas negeri di Kupang. Tergambar dari pengakuannya, ”... Kami berdua adalah orang-orang modern yang begitu rasional, tetapi mengapa ya adat tidak bisa menghempaskan kami begitu saja? Di sini, di Sumba ini kami berdua tetap manusia-manusia tradisional yang harus menjunjung teguh adat ...” (hlm. 37). ”Sebagian besar laki-laki dan perempuan Sumba, memegang adat leluhurnya dan selalu membawa langkah mereka kembali ke tanah leluhur ini, walaupun seringkali mereka menyangkalinya ..., cintaku pada tanah dan penghormatanku pada adat, sama bahkan sebanding dengan penyangkalanku terhadap keberadaanku ini, penolakanku serta pemberontakanku...” (hlm. 38).
Belenggu adat yang kian menekan, tak pelak melahirkan pemberontakan. Dua perempuan dalam novel ini memiliki karakter kuat dan radikal. Rambu Humba yang akhirnya memutuskan sendiri kelangsungan hidupnya bersama laki-laki yang dipilihnya dan Kalli, ibu Loge, seorang budak yang mengakhiri novel ini dengan melabrak dan melawan Umbu Bira dengan pedang.
Novel Loge ini sekali lagi meneguhkan persoalan adat yang masih membelit perempuan. Perempuan tetap menjadi warga kelas dua (meski perempuan itu bangsawan bahkan mengenyam pendidikan tinggi sekalipun). Nilai-nilai normatif adat beserta pengagungan terhadap leluhur tidak memberikan kuasa bagi perempuan mengarahkan laju kehidupannya. Ia tetap sebagai mansusia yang harus tunduk terhadap tangan-tangan yang menyetir langkah kakinya. Dan, novel ini berhasil meracik narasi fiksi dan memotret perempuan yang melakukan resistensi radikal akan sistem lokalitas dalam ranah adat yang menjerat kaku perempuan Sumba, negeri yang dikenal dengan sebutan bumi Sandelwood.
Minggu, 2008 November 23
Bila Perempuan Pesantren Bertemu
Pertemuan di siang terang tanah itu dibuka dengan perkenalan. Masing-masing peserta wajib menggambarkan siapa dirinya. Bola karet menjadi media untuk digilirkan dengan cara dilempar menuju sasaran. Tersebutlah nama, asal, hal yang paling disukai, dan tidak disukai dalam hidup ini. Bagi beberapa orang bisa jadi itu hal yang tidak rumit. Tetapi bagi sebagian yang lain, hal itu bisa jadi sama rumitnya dengan membuat satu keputusan. Bukankah hal terberat (sekaligus terhebat?) dalam hidup ini adalah membuat keputusan? Belum lagi jika keputusan itu didahului oleh serangkaian proses memilih? Dan menggambarkan diri sendiri dalam satu menit adalah pekerjaan tak ringan di sebuah pertemuan pertama.
Selanjutnya masing-masing diminta untuk “membelah diri” sesuai urutan yang dikehendaki fasilitator. Kadang diminta membentuk barisan berdasar ukuran fisik yang paling tinggi, hidung yang paling mancung, dsbnya. Sontak salah seorang berucap; “wah, ini rasis!”. Si fasilitor kemudian mengatakan; “Kita akan belajar tentang hal ihwal itu, teman-teman...”
25 orang bertemu dalam acara bertajuk “Belajar Bersama Perempuan Pesantren dan Majelis Taklim”. Dua entitas terdiri dari kalangan pesantren dan majelis taklim Kulonprogo dan Magelang (bukan majelis ta'lim lho, tapi majelis taklim). Meskipun saya bukan berasal dari kategori keduanya, tapi saya diikutkan. Mungkin sebagai pemandu sorak saja. :-)
Perjumpaan dan perkenalan dengan banyak orang adalah hal yang menyenangkan. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika bertemu dengan banyak teman dari kalangan pesantren. Tak terkecuali dengan Mbak Cicik Farha dan KH. Husein Muhammad, aktivis perempuan; aktif di gerakan sensitif gender utamanya berbasis pesantren. Dan saya merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan beliau keduanya, meski tidak sempat merenggang waktu untuk ngangsu kaweruh dengan mereka lebih panjang lagi. Kedua orang yang saya sebut terakhir ini, sama-sama merintis pendidikan mengkader ulama perempuan/perempuan ulama.
(KH. Husein Muhammad)
Perempuan ulama dimaksud di sini bukan seperti ulama perempuan biasa sebagaimana yang ada di tipi-tipi itu. Yang hanya pemberi catatan kaki atas sinetron atau tayangan cerita berbasis "kopiah-kerudung-tasbih-sorban-baju putih" dalam spektrum hitam putih yang dangkal. Yang hanya karena mengkalim diri Islam dan hapal satu-dua ayat-ayat Tuhan yang didapat dari sembarang sumber lantas berhak mengkapling-kapling surga dan lapangan kebaikan lainnya; sesuatu yang tidak mendidik masyarakat. Pendidikan kader dimaksud lebih dari itu, mencetak perempuan ulama yang matang dalam sisi wacana keilmuan, sensitif jender, dan tentunya peresapan nilai moral yang rahmatan lil 'alamin. (Bersambung ....)
(saya dan Mbak Cicik Farha)
Rabu, 2008 November 05
NYEKAR
Biasanya, tepat sepekan sebelum Ramadhan, kampung kami mengadakan tradisi yang dilakukan secara massal, di samping nyekar. Dengan mengambil tempat di tanah lapang sekitar pemakaman, ritual Nyadran atau kenduri bersama, diadakan. Setiap warga diwajibkan membawa nasi berkat. Seusai ritual doa bersama yang dipimpin oleh pemuka agama, nasi berkat tersebut kemudian saling ditukar dengan warga lain dan dibawa pulang. Tradisi itu seluruhnya dilakukan oleh laki-laki. Keluarga kami tak pernah sekalipun mengikutinya. Ibu beserta kami, ketiga anaknya, semuanya perempuan, karenanya kami tidak terkena kewajiban sosial itu.
Tetapi, rasa-rasanya bukan itu alasan utama sehingga kami sebagai bagian warga kampung tak dilibatkan. Hanya warga yang memiliki sanak yang dikuburkan di pemakaman itu yang bisa mengikuti tradisi nyekar maupun Nyadran. Sedang almarhum ayah kami tidak dimakamkan di situ. Warga kampung menolak, tidak membolehkan ayah dikubur di pemakaman umum milik kampung. Bertahun-tahun kami hanya bisa menyimpan gundukan perasaan tajam sebagai warga yang dikucilkan. Setajam ingatan yang menancap di ubun-ubunku. Pada masa lalu.
Naluri masa kanak yang lekat oleh pendengaran tidak sengaja pada suatu hari, membawaku bergetar tiap kali ruang ingatanku membuka. Terlebih ketika tradisi mengunjungi makam sebelum Ramadhan dilakukan orang-orang penuh suka cita, namun tidak dengan keluarga kami.
* * *
Hari masih pagi ketika seorang tamu yang rupanya dikenal ibu datang membawa kabar. Bibir ibu bergetar. Aku yang masih kecil ketika itu, mengintip dan mencuri dengar percakapan. Dari korden pintu tengah yang menghubungkan dengan ruang tamu, aku melihat ibu berbincang dengan tamu itu. Sesekali ibu tampak terhenyak. Menghela napas berat. Kakiku terasa diseret dan masuk ke dongeng gelap.
”Lokasinya sudah diketemukan. Seseorang yang mengaku sebagai pelaku itulah yang menceritakan dan menunjukkan. Tapi, kita jangan salah paham. Seperti Mbakyu ketahui, orang-orang itu tidak tahu-menahu. Mereka hanya disuruh. Mohon, kita coba ikhlas untuk memaafkan. Tak ada faedahnya kita memelihara dendam. Besok teman-teman akan ke sana. Silakan kalau Mbakyu mau ikut”.
Tamu itu bicara dengan suara lirih, pelan, dan penuh kehati-hatian. Seakan yang dihadapi adalah barang yang mudah pecah. Diujung percakapan aku melihat tangis ibu tumpah. Tamu itu merunduk. Sehari kemudian, ibu pergi bersama tamu itu dan menjadi awal hari yang hitam di hidupku. Di keluargaku.
* * *
Aku tengah menyiram pohon kenanga ketika ibu pulang membawa bungkusan. ”Siapkan bunga kenanga itu, Nis. Juga kembang setaman lain. Kita akan ke makam ayahmu”. Ibu berujar singkat. Aku tidak mengerti. Seumur-umur, ibu tidak pernah mengajak kami, anak-anaknya, ke makam ayah. Kisah yang sering diulang-ulang oleh ibu adalah ayah meninggal karena kecelakaan kapal saat tengah berlayar ke Makassar. Jasadnya tidak pernah ditemukan. Aku masih dalam perut ibu saat itu. Lantas, makam siapa? Ayah yang mana?
Belakangan, baru aku tahu bahwa bungkusan yang dibawa ibu tak lain adalah tulang-belulang yang konon jasad ayah. Bersama orang-orang yang kata ibu juga menjadi korban, entah korban apa, ibu mengambilnya dari sebuah sumur di daerah pegunungan kidul. Orang-orang menyebutnya luweng. Sumur dengan kedalaman yang konon berujung di laut selatan. Seseorang yang datang dari masa lalu telah membongkar semuanya. Rupanya ayahku tidak meninggal karena kecelakaan kapal, tetapi dibunuh orang-orang tak dikenal.
Aku melihat ibu bergegas. Hari telah beranjak gelap. Pak Lik Martoyo datang menenteng cangkul dan peralatan menggali lainnya. Aku semakin tidak paham. Ketika kami semua telah siap hendak meninggalkan rumah, sekelompok orang mendadak mendatangi rumah kami. Wajah mereka tertutup warna senja. Gelap dan menakutkan.
”Tulang-tulang itu tidak boleh kau kubur di pemakaman kampung ini. Kampung ini bisa dikutuk karena pemakaman umum berpenghuni pengkhianat bangsa, pemberontak negara macam suamimu. Kalau kau bersikeras, kami seluruh warga tak segan-segan membongkar galianmu. Kau hanya boleh mengubur tulang-tulang itu di tanah sekitar rumahmu sendiri”. Seorang tetua kampung berteriak lantang di depan rumah kami. Disusul suara sahut-sahutan teriakan orang-orang di belakangnya dengan ancaman yang sama. Aku ketakutan. Naluri kanakku membuatku menangis keras. Mulutku dibekap dan ditenangkan oleh ibu. Ibu diam. Kami semua diam. Orang-orang itu kemudian berlalu setelah ibuku menyatakan sanggup memenuhi keinginan mereka. Setelah senja yang menyakitkan itu, hampir sepekan sekali, ibu dan kedua kakakku pasti mengunjungi gundukan tanah di belakang rumah. Makam ayah. Ya, ibu mengubur tulang-belulang ayah di sana. Tanpa upacara. Tanpa air mata.
* * *
Masa kanak-kanak merambat kutinggalkan, namun ingatan saat kanak itu tidak mau tanggal. Setiap hari aku menumpuknya menjadi gumpalan dendam. Setiap hari pula ibu dengan sabar meruntuhkan.
Menurut cerita ibu, ayah kami bukan pemberontak seperti yang dituduhkan orang-orang. Ayah hanyalah seorang guru sekolah dasar yang biasa dipanggil Kamerad Guru. Kebetulan ayah memiliki bakat lain selain menjadi seorang guru. Bermain Kethoprak (sandiwara Jawa). Saat ulang tahun sebuah partai politik yang dilangsungkan meriah di Alun-Alun Kota, ayah diundang untuk pentas. Sebuah pementasan yang berujung petaka karena partai politik itu kini terlarang keberadaannya.
Sejak terjadi ontran-ontran di ibukota negara, ayah tidak pernah pulang. Kata ibu, ayah dibawa paksa oleh orang-orang tak dikenal dengan truk. Entah ke mana. Hari-hari selanjutnya status ibu berubah menjadi janda. Anehnya, ibu meminta kami semua untuk berlapang dada. Melupakan air mata. Sekaligus memaafkan ibu yang tak pernah bercerita sebelumnya.
Ucapan-ucapan bijak ibu yang setiap hari mencoba meruntuhkan batu di dadaku, tak begitu menuai hasil. Aku merasakan bara yang memenuhi rongga hatiku kian besar dan mampat. Siap meledak dan membakar apa saja. Sejarah keluarga yang tak pernah kutahu sebelumnya serta perlakuan terhadap jasad ayah yang tidak manusiawi, tak pernah bisa aku terima.
* * *
Keinginan ibu untuk nyekar kembali terngiang. Membuat jantungku berdebar kencang. Bukan kenapa. Kali ini, setelah bertahun-tahun, setelah uban kian menegaskan ibu yang menua, ibu mengagetkan kami. Ibu ingin makam ayah dipindah ke pemakaman umum kampung. Dengan begitu, ibu bisa nyekar lazimnya warga lain. Nyekar secara bersama-sama penuh suka cita menyambut Ramadhan dan lebaran.
Ibu dan kami semua tahu, tahun-tahun telah berlalu seiring berlalunya rezim yang mengutuk keluarga kami. Tetua kampung yang dulu menyalak keras di depan rumah kami pun sudah lama meninggal. Simpati orang-orang terhadap ibu lambat laun datang. Bahkan kian menebal setelah ibu pergi beribadah haji. Sesuatu yang membuatku tak habis mengerti.
Ibu berhasil menuai simpati orang-orang yang dulu mengucilkan kami. Orang-orang mulai membuka tangan. Mempersilakan ibu melakukan puter kuburan. Sebuah ritual memindah makam ayah dengan upacara sekadarnya. Ibu tidak pernah meminta lebih. Bahkan, rehabilitasi nama ayah sekali pun. Ibu hanya meminta ayah dikubur secara layak di pemakaman umum.
Dan kini, aku semakin berdebar menantikan apa yang akan terjadi. Tapi toh, semua orang tahu. Bertahun-tahun gundukan di belakang rumah kami hanyalah seonggok tulang-belulang yang mungkin sekarang sudah menjadi tanah. Upacara penghormatan puter kuburan hanya semacam syarat yang dilakukan dengan mengambil beberapa genggam tanah gundukan makam ayah untuk di pindahkan. Tidak ada yang musti dirisaukan. Tapi sesuatu tengah aku risaukan.
Kuikuti rangkaian proses penggalian gundukan di belakang rumah dengan khidmat. Tepat dugaanku, tak satu pun tulang ditemukan. Tapi tak seorang pun menaruh curiga, sekaligus tak satu pun yang tahu jika aku mulai dirambati resah. Mereka berkesimpulan tulang itu telah menjadi tanah. Ibu mengangguk pasrah ketika Pak Kaum yang memimpin acara itu meminta persetujuan. Mengambil beberapa genggam tanah. Dibawa dan dikuburkan di pemakaman umum kampung kami.
Kami telah berada di pemakaman kampung ketika ritual puter kuburan usai. Pak Kaum meminta kami duduk menghadap gundukan tanah baru. Makam ayah. Detik selanjutnya Pak Kaum memimpin doa. Kulihat wajah khusuk ibu. Juga kedua kakakku. Tak ada gelisah. Tak ada air mata. Tapi jauh di dalam hatiku bergetar luar biasa. Hendak menjelma air mata.
Diam-diam rasa bersalah menyelinap hebat di dadaku. Menjalar serupa akar. Mencengkeram kuat di ulu hati. Aku merasa bersalah kepada ibu, juga keluargaku. Dihantam oleh rasa sakit hati yang tak bisa kuredam dan rasa putus asa yang menekan, aku telah bertindak sendiri. Beberapa bulan lalu, tanpa sepengetahuan siapa pun, aku telah mengambil tulang-tulang ayah dari gundukan belakang rumah. Dengan caraku sendiri aku memindahkannya. Mengubur tulang-belulang itu di titik paling sudut pemakaman ini. Di bawah rimbun pohon bambu dan pohon kamboja tua. Sejenak aku melirik ke sana. Kemudian beralih ke Maeja yang menancap di kedua ujung gundukan baru, tepat di depan mataku. Kubaca nama ayah. Mataku terasa panas ...
Kulonprogo, 14 September 2008
Nyekar : ritual ziarah kubur yang disimbolkan dengan tabur bunga
Nasi berkat : nasi kenduri
Ontran-ontran : kekacauan
Maeja : kayu pusara, biasanya bertuliskan nama jenasah
Minggu, 2008 Oktober 26
Soliloqui dengan Nada Dasar C Minor

: terkenang Hendrie
Aroma bunga yang kau bawa menusuk hidung dari palung waktu
Telepon rumah yang terdiam di dekat pediangan
Ibu yang tersenyum diamdiam kemudian menanyakan
Kabarku yang tak pernah bersapa lagi di bariton saban Jumat siang
Ruang kenangan yang lengang
Pelita yang meredupkan bayangan
Berlangsung di sini
Menjungkalkan segala angan
Ketika,
Tibatiba aku telah terbang
Lagu menyendu sudah seramah langkah
Perjalanan yang bertabur
Sesat peta terburai
Dan,
Aku yang masih harus menata
Dari segala seluruh segala
Terengah di padang savana
Seumpama seorang salik limbung mencari Tuhannya
Ringan tubuh ingin kubawa terbang menuju muara cahaya
Mendekap kejora nirwana
Meski jauh tapi sempat kueja untuk membaca rasarasa
Seperti bulu mata lentik milik ibu
Yang menemuiku dan mengeratkan pergelangan tangan siang itu
Agar tak terjatuh di titian
Aku yang urung berlindung di dekapan
Telah tak kutemui kerinduan di bidang
Wajahwajah tak bertuan dan sidangsidang
Kau yang tak jemu menitikkan cinta
Mengeriapkan jiwajiwa pecinta dan penimba
Jalan dunia mana musti dibuka
Seharusnya bisa kuakhiri sajaksajakku
Menghentikan rajutan cinta yang tak jadijadi
Bukankah dengan sengaja kita pernah samasama nyanyikan tembang
Nicky Astria, ”Matahari dan Rembulan”?
”... ingin kuhentikan tetapi siasia ...”
”... ingin kuhentikan tetapi siasia ...”
Aduhai sahabatku yang agung,
Aku takut ini melebihi sekutu setan!
be inspirited by ”Nothing Else Matters” Metallica
Sketsahati, 16 Oktober 2008
Gedung Pala (Ingatan yang Berebut Ruang)
Kakimu tersangkut debu
Dibawa terbang kumbang
Sayap yang kau bangun dari titik sunyi
Telah hilang separuh pergelangan
Dibabat bayonet, parang, badik, juga laras panjang
(tanpa proses peradilan)
Sementara kakiku tersesat di rimbun buku waktu
Tak kenal gelaran peta
Mungkin sengaja ditimbun rezim orde baru
Yang mengalpa sejarah dalam bukubuku
Prahara Petruk jadi Ratu
Kepalaku tersiksa ditikam ingatan
Sayat sembilu
Ayah, Ibu, Kakak, Adik, dan kerabat yang suka menarikan kehidupan
Telah hilang dibalik layar hitam, tak munculmuncul
Mungkin lupa jalan pulang
Ingatan yang berebut ruang
Di pinggir rel stasiun ini jiwaku terhimpit satusatu
Ruang ingatan telah dimusnahkan
Sejarah telah dilenyapkan
Minggu, 2008 Oktober 05
Lebaran Titik - Titik ...
Miris hati tatkala membaca laporan media massa beberapa waktu lalu.
Idul fitri yang sejatinya indah musti tertoreh duka. Nyaris 500 nyawa melayang sia-sia sebagai korban kecelakaan lalu lintas sepanjang lebaran ini. Dan ratusan orang lainnya terluka berat dan ringan. Beberapa jam lalu saya melintasi jalanan utara Nagung, selatan SMK, usai terjadi tabrakan. Saya terlambat mendapatinya. Hanya tersisa kerumunan orang dan polisi serta sebuah mobil pick-up yang mengangkut dua buah sepeda motor rusak (mungkin korban kecelakaan). Mirisnya, aspal yang dilindas ban motor saya, penuh darah yang tak sempurna ditaburi pasir yang sekenanya. Ah,
Kadang, diri lebih kerap tercekat menyaksi ini. Ada apa? Kenapa? selalu saja. Setiap kali hiruk-pikuk liburan lebaran berikut aktivitas yang menyertainya terutama penggunaan jalan raya berkendara musti memakan korban? Apakah penggunanya? Apakah manajemen pengelolaan jalan raya di tangan pengelola sekaligus pengambil kebijakan? Aih, saya nyaris tak tahu lagi ...
Kebahagiaan yang layak dicecap siapa saja di lebaran mengapa tak lepas dari selimut duka? Ada beberapa coretan yang menggaris luka di hati saya lebaran kali ini. Saya pikir, tahun-tahun yang silam hal-hal semacam bakalan lepas. Tetapi rupanya fainna ma'al yusri belum yusro. Atau saya saja yang belum bisa bersyukur dengan sungguh-sungguh?
Di hari lebaran kurang dua hari silam, di sebuah warung sayur-mayur dekat rumah saya, saya terlibat obrolan dengan beberapa ibu-ibu rumah tangga yang sibuk memilih-milih bahan masakan untuk menu buka puasa, rata-rata menurut saya 'istimewa' karena paling tidak mereka berbelanja banyak sekali dan tidak ketinggalan menu daging atau ikan yang menurut ukuran saya 'mahal'. Tak dinyana, dari arah sudut berdiri seorang anak kecil, perempuan, sangat lusuh, kurus kering, terlihat sekali kemelaratan di tubuhnya. Terdiam di pojokan. Tidak mendekat ke arah kerumunan ibu-ibu yang dengan gembira sibuk memilih aneka belanjaan sembako lainnya. Rupanya si anak perempuan itu sudah dari tadi di situ. Ketika ditanya sang pemilik warung, "mau beli apa?" ia menjawab "mau jual beras". Lalu si pemilik warung menimbang beras yang dibawanya, ada dua kilo. Dibayar. Kemudian gadis kecil itu menghilang. Saya tahu ia pasti disuruh orang tuanya. Saya berpikir, sungguhkah keluarga mereka tak ada uang di hari itu? Saya juga tahu, keluarga mereka cukup 'kekurangan', orang tuanya memiliki anak banyak yang masih kecil-kecil. Secara mendadak, saya urungkan niat saya untuk berbelanja. Saya pulang ke rumah dengan hati menangis. Saya teringat semuanya. Saya teringat masa lalu. Masa kanak-kanak saya. Saya teringat orang-orang yang kurang beruntung itu. Teringat sanak saudara saya. Teringat kerabat-kearabat saya. Saya juga teringat kakak perempuan gadis kecil itu yang duduk di bangku SLTA, saat sepekan sebelumnya saya mengisi di kelas sekolahnya; pesantren kilat Ramadhan. Ketika itu saya memang sengaja memberi perhatian kepada anak kelas tiga SLTA itu. Di saat saya bicara di depan kelasnya, perhatian saya tak bisa lepas ke gadis remaja itu. Parahnya, ingatan saya selalu tak lepas dari riwayat keluarganya. Saya lantas menduga-duga sendiri, berapa ya kira-kira uang saku sekolah gadis itu? Ah. Benar-benar tak saya duga ketika di suatu siang, dua hari menjelang lebaran, adik perempuannya berhasil memaku hati saya di warung itu. Menyisakan perih karena saya tak bisa melakukan apa-apa .....
Saya yakin, itu hanya salah satu dari salah banyak di negeri ini. Dan lebaran kali ini pun bagi saya masih tak jauh dari nuansa yang direkam Sitor Situmorang "Lebaran, Bulan Di Atas Kuburan" ...
Selasa, 2008 September 23
Berteduh di Baitul Kilmah; “Rumah Kata”
Sabtu pagi, pesan pendek masuk ke telepon genggam saya. Kang Aguk (Aguk Irawan MN) mengundang untuk hadir dalam ‘lounching’ Pesantren Kreatif miliknya. Dinamainya Baitul Kilmah atau Rumah Kata. Sesuai penamaannya, komunitas ‘ber-pesantren kreatif’ itu hendak dijadikan rumah bagi kata-kata. Seolah hendak melengkapi jajaran ’Rumah’ yang hadir sebelumnya di Jogja; Rumah Lebah, Rumah Poetika, Rumah Kata hadir meramaikan khasanah komunitas sastra berikut dunia tulis-menulisnya, khususnya di kota Jogja.
Minggu sore, 21 September 2008, saya berlima datang dari Lumbung Aksara. Tapi sebenarnya diri saya sendiri bukan ingin menyimak acara itu secara serius. Saya justru ingin sekali bertemu dengan istri dan anaknya Kang Aguk yang saya duga tengah di Jogja. Rupanya dugaan saya meleset. Dua perempuan cantik-nya Kang Aguk itu masih berada di Cirebon sampai lebaran nanti. Mengingatnya, jadi mengingatkan saya akan waktu silam. Perkenalan saya dengan Kang Aguk sesungguhnya tidak bermula atau terkait dengan sastra. Saat itu tahun 2001. Dia masih tercatat sebagai mahasiswa aktif di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Ketika itu mungkin dia tengah berlibur dan sering bolak-balik Indonesia-Mesir. Sedikit saya hanya pernah berjumpa namanya melalui tulisan-tulisan yang saya lupa mengulas apa. Yang jelas saya sempat tidak asing dengan namanya. Kebetulan sekali saya bersahabat dekat dengan seorang perempuan satu pondokan dengan saya. Di kemudian hari perempuan itu menjadi istrinya Kang Aguk. Kedekatan persahabatan saya dengan perempuan itulah yang mengantar saya kenal dengan Kang Aguk yang waktu itu masih berstatus pacarnya. Tetapi saat itu saya mudah lupa. Saya baru teringat kembali saat keduanya akhirnya menikah di akhir tahun 2005. Sayang sekali saya tak dapat menghadiri pernikahan mereka di Cirebon, tempat istrinya itu. Siapa nyana sekarang saya bisa kenal dekat dengan Kang Aguk sebagai akibat dari bertemunya kegemaran terhadap kata-kata, terhadap sastra? Yang beda cuma satu; Kang Aguk tidak suka minum kopi sedang saya suka sekali. He he he ...
Hadir dalam kesempatan buka puasa bersama itu penyair, sastrawan, santri, wartawan dari berbagai tempat. Nyaris sedikit yang saya tahu dan kenal; Mas Joni Ariadinata dari Horison, beberapa kawan dari KUTUB (Hei, Salman. Kau tak tampak ada. Ke mana gerangan?), pondok pesantren Mlangi cs, Indrian Koto – Sukma, Iman Romansha, Mahwi Air Tawar, dan banyak lagi. Oya, ada beberapa yang saya ajak berkenalan; santri-santri pondok pesantren Langitan Tuban. Mereka tengah mengadakan liputan untuk majalah pondok. Kebetulan pula mereka adalah adik kelas/adik angkatan meski sangat jauh, dengan Kang Aguk.
Tampak Mas Joni tengah memberi taushiyah (hehe), didampingi Kang Aguk
Dari kata sambutan yang tak sempat saya simak serius, beberapa bagian hilang dari ingatan saya (uhh, payah ya!), Kang Aguk selaku pengasuh pesantren (eit, dia diberi julukan Kyai Haji Aguk el-Mishry, sementara Mas Joni dijuluki Ustadz. Hehe) menyampaikan bahwa hadirnya Baitul Kilmah atau Rumah Kata ini sejatinya hendak menjadikan sebuah komunitas seperti pesantren, tetapi yang dimaksud adalah pesantren kreatif, mewadahi aktivitas menulis, belajar bahasa Arab dan belajar menerjemah. Dipaparkannya kondisi sastra di negeri ini, terutama tulisan sastra terjemahan dari bahasa Arab yang masih sangat lemah. Ke depan, diharapkan dari hadirnya Baitul Kilmah ini bisa dijadikan tempat belajar dan bersemai terkait penerjemahan. Baitul Kilmah, ungkapnya, pernah mencoba menerapkan pembelajaran/kursus gratis bahasa Arab kepada beberapa pastur dalam waktu 15 jam. Dan hasilnya lumayan. Untuk itu, Rumah Kata sedianya akan terbuka 24 jam bagi siapa saja yang ingin belajar. Tidak dipungut biaya, katanya. Hanya menyediakan tempat seadanya nan kecil (karena di sebuah perumahan). Di lantai dua ada beberapa ruang yang mirip pondokan pesantren, tempat belajar para santri. Eit, tapi saya belum tahu berapa santri yang menghuni pesantren baru ini. Mungkin, santrinya pada ngalong kali ya.. he he he
Acara sambutan, peresmian dsb.nya dilanjutkan dengan buka puasa bersama dan tadarus puisi. Namanya juga tadarus puisi, ya mirip di Lumbung Aksara lah. Ada pembacaan puisi. Kesempatan pertama diberikan kepada Lurah LA untuk membaca puisi, dan kesempatan kedua oleh Mahwi ditunjuklah saya, tetapi saya menolak. Saya sedang tidak ingin baca puisi. Beruntung adzan maghrib sebagai tanda berbuka puasa berkumandang. Selamatlah saya dari penunjukan itu karena saya bisa beralasan sedang makan. Yang agak bikin tersenyum adalah hampir semua peserta pembaca puisi di tempat itu membaca puisi-puisi yang ada di LONTAR edisi terbaru. Kebetulan si Zur membawa LONTAR ke sana. Bahkan, puisi saya yang ada di LONTAR dibacakan sama Indrian Koto, sementara saya ngacir ke bagian dalam rumah untuk sembahyang maghrib. He he he, (Koto celingukan mencari saya ya?). Di akhir acara saya dan Zur pamit. Indrian sempat mengajak untuk datang di TBY, tapi saya menjawab tak bisa. Yup, jadi ingat SMS Zaki tempo hari. Undangan untuk hadir di acara Malam Sastra 1000 Bulan itu di TBY. Sayang sekali, kami harus pulang ke Wates. Kami berdua masih agak lapar. Jadilah, sejenak mampir di Wates. Maem bakmi.
Usai buka puasa bersama, beberapa terlibat obrolan dengan Sang Pengasuh, Kiai Aguk
Setiap pendirian sebuah komunitas, pastilah terselip sebuah, dua buah, tiga buah dan seterusnya, harapan! Tak terkecuali Baitul Kilmah ini. Semoga, berkah Ramadhan mampir di Baitul Kilmah. Membuat komunitas ini berbeda dari yang sudah ada, sebagai napas menyemarakkan jagat kepenulisan sastra di Indonesia. Allahumma Amin. Yeah....!